Pengikut

Kamis, 08 November 2018

Manajemen Pendidikan
Mengambil Keputusan Pendidikan yang Berkualitas


       SEKOLAH pada saat ini sering sekali dihadapkan pada sejumlah dilema yang muncul sebagai akibat dari berbagai dinamika yang terjadi baik yang eksternal maupun internal sekolah. Dinamika  kehidupan politik dan kenegaraan yang pada gilirannya berimbas pada penundaan penerapan kurikulum 2013 di sebagian sekolah merupakan contoh keadaan eksternal yang berpengaruh langsung terhadap praktik kehidupan sekolah. Sekolah dan bahkan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota dihadapkan pada dua pilihan apakah tetap melanjutkan penerapan kurikulum 2013 atau kembali menerapkan kurikulum 2006. Masing-masing kurikulum memiliki sejumlah konsekuensi yang tidak kecil baik dilihat dari segi pengembangan kurikulum (perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum) maupun dari segi pendukung pengembangan kurikulum (misalnya, manajemen, keuangan, personalia, dan sarana prasarana). Terjadinya tindak kriminal yang dilakukan siswa (misalnya, tawuran, pencurian, pemerasan, dan penyalahgunaan narkoba) adalah merupakan contoh dari keadaan yang memaksa sekolah untuk memilih apakah perlu tindakan pendidikan yang bersifat shock therapy. Pemilihan tindakan yang  tegas ini bukannya tanpa risiko. Ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan, yaitu, kelanjutan pendidikan siswa, kondisi keluarga siswa, HAM, hukum, dan dinamika keadaan masyarakat di sekitar sekolah. 

      Pengambilan keputusan sekolah yang terburu-buru, tidak sistematis, dan cenderung mempertimbangkan keadaan seketika itu saja menghasilkan keputusan yang tidak berkualitas. Keputusan yang  dihasilkan tersebut tidak berumur lama, mudah goyah dan berubah, dan menimbulkan masalah baru yang lebih berat serta memaksa para pimpinan sekolah  untuk mengoreksi keputusan yang mereka buat tersebut. Hal ini tentu merupakan pemborosan baik waktu, tenaga, maupun materi atau sumber daya lainnya. Warga sekolah terutama guru-guru konsentrasinya terpecah, tidak terfokus pada peningkatan pembelajaran. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia-sia. Pada gilirannya, mereka akan mengalami kelelahan secara psikis yang berdampak pada turunnya semangat untuk melakukan aktivitas pendidikan di sekolah. Hal ini tentu dapat berpengaruh pada hasil pembelajaran siswa di kelas.
      Oleh karena itu, pengambilan keputusan yang berkualitas mutlak dilakukan oleh para pimpinan/ administrator sekolah khususnya dan warga sekolah umumnya. Pengambilan keputusan yang baik akan berdampak pada peningkatan kinerja dan semangat warga sekolah untuk melakukan berbagai aktivitas pendidikan, serta efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber-sumber daya sekolah.
      Terdapat beberapa langkah pengambilan keputusan yang perlu dilalui untuk memperoleh keputusan yang berkualitas tinggi. Langkah-langkah tersebut adalah penentuan tujuan dan pengukuran hasilnya, identifikasi persoalan, pengembangan alternatif, evaluasi alternatif, memilih alternatif, melaksanakan keputusan, pengendalian pelaksanaan keputusan dan evaluasi. Dalam pengambilan keputusan para pimpinan dan warga sekolah hendaklah mengetahui tujuan-tujuan yang ingin dicapai sekolah dan bagaimana pencapaian tujuan tersebut dapat diukur pencapaiannya. Tujuan-tujuan yang dimaksud dapat dilihat dari pencapaian prestasi belajar siswa, peningkatan nilai kinerja guru dan karyawan sekolah, atau peningkatan efektivitas dan efisiensi kinerja organisasi sekolah.Agar dapat diukur, tujuan hendaklah menyebutkan ukuran kuantitatif. Misalnya, mencapai nilai rata-rata 80 untuk semua mata pelajaran yang di-UN-kan; atau mencapai rata-rata tingkat kinerja guru 90 (konversi akhir) di akhir tahun.
      Selanjutnya persoalan yang ada perlu diidentifikasi. Persoalan yang dimaksud adalah kesenjangan antara apa yang menjadi tujuan sekolah dan kenyataan yang ada. Manakala kita sudah menetapkan nilai prestasi siswa 80 namun dari sejumlah tes ternyata hanya diperoleh nilai 70, maka hal ini merupakan persoalan yang dapat dicari akarnya baik itu dari sisi proses atau bahkan perencanaan pembelajarannya termasuk di dalamnya ketersediaan sumber-sumber belajar yang diperlukan.
      Setelah kita mengidentifikasi masalah, kita mengembangkan alternatif pemecahan permasalahan. Kembangkan sebanyak mungkin alternatif pemecahan masalah. Misalnya, untuk  meningkatkan nilai prestasi siswa dari rata-rata 70 menjadi 80, sekolah dapat mengadakan remedial (pembelajaran plus tes), penambahan waktu pembelajaran, penerapan metode pembelajaran inovatif,  pengadaan sumber belajar baru, pemberian hadiah untuk siswa dan/guru yang mampu mencapai nilai tinggi dan lain-lain.  Setelah itu, kita menilai dan mempertimbangkan alternatif yang dikembangkan tersebut. Kita tidak boleh mengabaikan satu pun alternatif yang dikembangkan. Adapun hal-hal yang menjadi rujukan untuk mempertimbangkan alternatif yang dimaksud adalah teori pendidikan,  perundang-undangan dan peraturan/kebijakan pemerintah, kebijakan-kebijakan yang sekolah, ketersediaan sumber daya, kondisi fisik dan psikis guru dan siswa, dan  bahkan kondisi ekonomi, dan latar  sosial dan budaya siswa. 
      Apabila kita sudah mempertimbangkan alternatif tersebut secara matang, maka kita dapat memilih alternatif apa yang paling baik dan menguntungkan bagi sekolah. Alternatif tersebut merupakan alternative yang telah dikaji dari berbagai segi.  Keputusan tersebut kemudian di sosialisasikan pada semua warga sekolah untuk dapat dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah disepakati. Berbagai media sosialisasi dapat dimanfaatkan oleh  administrator sekolah baik berupa rapat dinas, papan pengumuman, majalah dinding, maupun poster. Para pimpinan  sekolah harus dapat memastikan bahwa semua pihak yang terkait mengetahui dan memahami keputusan yang diambil. Pelaksanaan keputusan tersebut perlu dimonitor dan dikendalikan agar sesuai dengan yang ditetapkan sebelumnya. Monitoring perlu dilakukan untuk  memastikan semua pihak melaksanakan keputusan yang diambil. Selanjutnya, kita perlu mengevaluasi  pelaksanaan keputusan tersebut untuk perbaikan. Kegiatan evaluasi ini sering diabaikan oleh para administrator sekolah karena merasa cukup dengan mengamati pelaksaan keputusan tersebut. Padahal, kegiatan ini sangat penting karena kita dapat mengetahui pencapaian tujuan sekolah dan efektivitas pelaksanaan keputusan pendidikan. 
      Pengambilan keputusan yang berkualitas dapat membuat kinerja dan semangat warga sekolah meningkat serta kualitas praktik pendidikan meningkat pula. Untuk dapat menghasilkan keputusan pendidikan yang berkualitas tersebut kita perlu menginvestasikan waktu, tenaga dan sumber daya yang memadai untuk melakukan berbagai langkah-langkah sistematis pengambilan keputusan.

klik link-1 untuk menuju facebook
klik link-2 untuk menuju twitter



22 komentar:

  1. sangat bermanfaat untuk setiap mahasiswa manajemen pendidikan

    BalasHapus
  2. artikelnya sangat jelas dan mudah untuk dimengerti. ditunggu blog selanjutnya kak...

    BalasHapus
  3. Mantapp sangat bermanfaat, trima kasi. Tolong di perbanyak lagi artikel artikel seperti ini

    BalasHapus
  4. Bagus,informasinya mudah di pahami.
    Di tunggu artikel artikel selanjutnya....

    BalasHapus
  5. Informasi yang bermanfaat. I like

    BalasHapus
  6. Bgus artikelny. Skdar memberikan saran klw bleh cantumkan daftar sumber referensi.y agar kami bisa baca sumberny . Trima kasih

    BalasHapus